#2 SIDANG SKRIPSI: TIM HORE

Alhamdulillah, rasa syukur tidak terkira pada salah satu perkara yang dinantikan akhirnya terselesaikan. Jazakumullahu khair kepada seluruh pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung hingga titik ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Semoga berkah rahmat illahi melimpahi jasa-jasa kalian..

Seputar Pondok Pesantren Nurul Amin Muhammadiyah Alabio

Di daerah Alabio terdapat sebuah pondok pesantren yang sederhana tapi patut diacungi jempol.

Paradigma Penjara Suci

Tentu pembaca sudah tau kan apa makna sebenarnya dari istilah penjara suci?. Ya… penjara suci adalah istilah sebutan untuk Pondok Pesantren.

Kemah Kader Sebagai Pemeriah Milad IMM ke 52 di Kalimantan Selatan

Salah satu bentuk pemeriahan milad IMM ke 52 yang dipersembahkan oleh IMMawan dan IMMawati Kalimantan Selatan adalah kemah kader yang diikuti oleh PC dan PK IMM se Kalimantan Selatan pada jum'at-sabtu, 18-20 Maret 2016 di lapangan SD Alam Landasan Ulin Banjarbaru.

Penghujung Periode

Ikatan Mahasiswa muhammadiyah Universitas lambung Mangkurat Banjarmasin

Monday, July 27, 2020

Renungan


Kalimat demi kalimat telah tersusun rapi
Ku persiapkan matang,  hanya untuk berjumpa denganmu
Tapi siapa sangka,
Semua kalimat sirna ketika berada dihadapanmu

Bodohnya aku
Entah sejak kapan ku merasa perlu
Mempersiapkan kalimat untuk suatu perjumpaan
Sejak kapan lidahku kelu ketika berdiri dihadapanmu
Bodohnya aku

Entah apa yang harus ku sesali
Perjumpaan?
Diriku?
Dirimu?
atau persiapanku?

Terbesit ketakutan
Setumpuk pertanyaan
Apakah ku telah jatuh cinta?
Denganmu, temanku?




Thursday, January 23, 2020

Next Ortom: Nasyiatul Aisiyah



    Sekitar awal Oktober 2019 saya ditawari untuk bergabung di Nasyiatul Aisiyah, tidak begitu pikir panjang saya langsung meng-iyakan tawaran tersebut. Saat itu sama sekali belum mengetahui 5W+1H mengenai Nasyiatul Aisiyah, hanya mengetahui bahwa NA juga salah satu ortom Muhammadiyah dan di dalam anggotnya semua perempuan tidak ada laki-laki (wanita seterong semua di dalamnya 🤣).
     Singkat cerita mendekati hari pelantikan begitu banyak persiapan, termasuk pakaian yang digunakan saat pelantikan. Memang sudah lumayan sering melihat seragam resmi dari Nasyiah, tetapi belum sempat membayangkan bakal memakai baju itu juga. Bukan perihal tidak mungkin, namun melihat warna kain yang tidak sesui dengan warna kulit saya 😅😂 sehingga membuat enggan memakai.
     Hari pelantikan saya tidak bisa berhadir dengan alasan yang bisa dibilang hanya dibuat-buat, namun sebenarnya salah satu alasan saya tidak bisa berhadir adalah ketidak siapan mengenakan seragam itu dan beberapa hal yang tidak bisa disebutkan. Awal mendapat kain memang sangat girang, akan tetapi ketika sampai di rumah, ketika dipandang- pandang kok sepertiya lucu betul kalau saya berpakaian ini. Wal akhir kainpun tidak segera saya jahit.
     Hingga pada tanggal 15 Januari 2020 ada undangan pelantikan PC IMM Kota Banjarmasin yang masuk di grup whatsapp PDNA Kota Banjarmasin. Karena saya juga sebagai alumni cabang tersebut saya pun bersedia mewakili NA untuk menghadiri undangan pelantikan bersama dua rekan ayunda NA. Salah satu dari mereka menghubungi saya dan berkata "pakai baju NA lo?". Seketika, saya langsung menoleh ke samping dan/atau bawah meja belajar memastikan kain masih ada di temptnya. Ternyta kain itu sudah berpindah tempat, belum sempat membalas saya langsung mencari kain yang entah dimana keberadaanya, setelah ke beberapa tempat "akhinya ku menemukanmu".
     Pagi harinya kainpun segera saya antar ke penjahit. Niat hati ingin menjahit sendiri seragam itu, seperti seragam batik IMM yang juga hasil jahitan sendiri. Tapi apalah daya hari itu jadwal terlanjur padat dan seragam harus segera jadi untuk di pakai malam hari itu juga. Apakah seragnya Jangan bisa jadi? tentu, sore pulang dari kampus saya mampir lagi untuk mengbilnya. Jangan bertanya kok bisa langsung jadi, pagi diantar sore di ambil, ya karena penjahitnya sodara gue 😅. Terima kasih pakde 🙏
     Akhinya bisa mengenakan sergam NA juga 😎

Bersambung...

     Rasanya ingin balik kanan kembali pulang...


Tuesday, November 26, 2019

#2 SIDANG SKRIPSI: TIM HORE



     #fastabiqulkhairat
     Selasa, 26 November 2019
     Alhamdulillah, rasa syukur tidak terkira pada salah satu perkara yang dinantikan akhirnya terselesaikan. Jazakumullahu khair kepada seluruh pihak yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung hingga titik ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Semoga berkah rahmat illahi melimpahi jasa-jasa kalian.
    Terima kasih saudara-saudara ikatan mahasiswa muhammadiyah kakak-kakak, adik-adik dan sodara DAD ku yang sudah meluangkan waktu, tenaga, uang untuk dapat menyambut saya setelah sidang skripsi hari ini. Maafkan karena jadwal sidang berubah sangat, jadi maju banget dari jadwal yang tertulis. Tapi makasih sedalam-dalamnya udah lebih gercap juga datang. 
 Tidak bisa tertuliskan betapa bahagia dan terharunya diri ini atas kedatangan kalian sebagai tim support, tim hore, tim energi diri ini wkwkwk.
     Terima kasih ka Rahmi kakak tak sedarah namu seikatan yang pertama datang dan meninggalkan ka fridha karena takut saya menunggu lama wkwkw haruuu padahal jam-jam menjemput mama di sekolah dan mengurus bisnis sana sini.
     Ka Faridha kakak tak sedarah namun seikatan yang sudah membawakan something red red yang membuat saya jadi nampak kalem wkk.
     Ikhza adik keinstrukturan yang sudah jauh-jauh dari UIN dan membawakan es jus mangga kesukaan saya 🤤 (itulah se[mangga]tku) dan ampe bolos kuliah demi kakaknya wkwkw -biar makin dramatis-
     Najma adik keinstrukturan yang juga sudah jauh-jauh dari UIN selesai kuliah langsung cus ULM di siang bolong dan disela-sela kesibukannya hari itu 
     Tia adik keinstrukturan yang kampusnya di UMB kampus utama rela jauh2 ke ULM siang-siang macet-macetan wkwkw.
     Nabila sodara tak sedarah DAD UIN gabungan PK KB terfenomenal versi kami wkwk yg sudah lebih jauh lagi dari Martapura balik ngajar langsung ke Banjarmasin tanpa izin ortu dulu (jgn ditiru) yg padahal malamnya ada rapat MDMC di Martapura rela aja panas-panas ke Banjarmasin demi menyambut saya setelah sidang wkwkwk.
     Ayu Pur juga sobat tak sedarah DAD UIN gabungan PK KB yang saat semhas dan sidangku selalu datang, jauh-jauh dari rumah ke ULM. Sodara yang senantiasa menemani saat gabut2nya gara-gara skripsi.
     Terima kasih kalian karena telah membuktikan bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tak sekedar organisasi biasa melainkan ikatan yang saling mengikat satu sama lain. (kunwa)


baru sadar tidak ada foto sendirian 😂
Jangan bertanya kok kada pakai selempang. Karena saya tidak punya dan tidak ingin punya.











    
    

Thursday, September 26, 2019

Perkaderan Itu Candu: Akhirnya Jadi Peserta

Setelah olah raga & game pagi (bukan mahasiswa UMB tapi serasa kampus milik sendiri :D)

Seringkali kita perlu bantuan jembatan untuk sampai ke seberang jalan. Entah peribahasa apa yang sesuai untuk ringkasan cerita kali ini. Barangkali anak baik menantu molek atau bagai mendapat durian runtuh atau mendapat badai tertimbakan.
Sepekan yang lalu saya mengikuti kegiatan perkaderan lanjutan. Seperti pada umumnya dalam keikut sertaan menjadi peserta pada sebuah kegiatan tentu ada beberapa tahapan yang harus dilewati. Namun, dari beberapa perkaderan yang sudah saya ikuti, mungkin ini adalah perkaderan yang perjalanannya untuk menjadi peserta begitu berat dan berkesan namun saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada banyak pihak. Kalaupun disebutkan memang nampak biasa saja, tapi jujur itu sangat mengugubkan.
Selain perjalanan proses berhasil menjadi peserta, ternyata perkaderan kali ini juga meninggalkan kesan mendalam tersendiri. Selain di hari-hari pelaksanaannya yang tentu penuh dengan moment-moment sulit terlupakan. Walaupun peserta yang mendominasi adalah teman-teman yang sudah sangat kenal lama, tidak sekedar kenal bahkan kebiasaan merekapun saya hafal. Ada satu hal yang benar-benar dirindukan setelah sekian lama. Tulisan dalam amplop dari kertas sobekan yang saling diberikan oleh para peserta, ternyata salah satu isinya membuat diri ini tertegun dan bergetar. Pesan singkat yang rasanya sudah lama tidak pernah disampiakan oleh siapapun. Entah dia menuliskannya memang dalam keadaan sungguh-sungguh atau sekedarnya saja, yang jelas itu seakan membangkitkan semangat yang sudah lama redup walau alhamdulillah tidak sampai mati.
Yang jelas semua ini telah di atur oleh Allah, mungkin ini adalah cara Allah untuk mengingatkan hambanya yang lalai. Berharap Allah menuntun agar meluruskan niat dan membangkitkan semangat ini bukan karena makhluknya tetapi tetap karena-Nya.
Terima kasih teman kau telah menuliskannya dan teman-teman seperjuangan yang telah menambah cerita hidup saya.
Dari belakang kiri Ka Faridha, ka Rochman, Yusuf, Ayu Pur
Ridha, Nabila, Aulia (Gaya muha cakah katanya 😎) kurang airul

Bersama salah satu pemateri (Mumpung semua peserta lengkap jadi foto ini yang dipilih 😅)
Ada rahasia cerita dibalik foto ini (Alhamdulillah ada foto lengkap peserta di dalam ruangan walau dari hasil screen shoot video 🙆)

Sampai jumpa di kita yang terus lebih baik lagi dari hari ke hari.
(Kunwa)

Tuesday, July 23, 2019

Kembali Menjadi Santri


       Niat awal mau menulis kegiatan setiap harinya selama di pesantren, jadi seperti 30 hari bercerita, tetapi setelah difikir-fikir kegiatan di pesantren kan katanya monoton cuma bangun tidur, mandi, ngaji, makan, ngaji lagi, terus ngaji lagi, bahkan sambil tidur juga ngaji lagi dan seperti itu saja terus. Lalu kalau setiap hari harus menulis cerita itu akan sangat membosankan, mungkin saya cuku hanya dengan copy paste. Walakhir, saya memutuskan untuk merangkum cerita per pekannya saja. Nanti mari kita buktikan apakah kegiatan di pesantren hanya monoton?!
       Hampir semua santri tentu selalu berfikir ketika masih menjadi santri selalu ingin cepat-cepat keluar dari penjara nan suci tersebut. Ya penjara suci adalah sebutan dari pesantren. Namun anehnya ketika benar-benar sudah keluar dan bebas akan selalu muncul kerinduan-kerinduan akan dunia pesantren.
   Bakan ada sebuah kesaksian dari seorang alumni santri sepekan setelah kelulusan hari-harinya dipenuhi dengan perasaan-perasaan yang tidak karuan dan sulit untuk digambarkan. Selalu ada keinginan untuk kembali ke penjara itu.
   Setelah empat tahun lulus dari pesantren saya memutuskan untuk kembali ke pesantren yang sama lagi. Tentu kembalinya saya disertai beberapa misi, tidak seperti sepuluh tahun yang lalu ketika petama kali masuk pesantren. 
     Minggu 14 Juli 2019 dini hari saya memutuskan untuk berangkat ke Pondok Pesantren Nurul Amin Muhammadiyah Alabio. Pesantren ini merupakan salah satu diantara salah dua pesantren Muhammadiyah yang ada di Kalimantan Selatan. Malam hari sebelum keberangkatan, sebenarnya saya sempat merasa sangat bimbang karena ada beberapa urusan yang belum terselesaikan. Namun pada akhirnya rasa yang menggebu-gebu dan ketawakalan ini mengantarkan saya tetap teguh untuk tetap berangkat.
       Pantau terus tulisan receh ini dan nantikan cerita pengalaman pribadi kembali menjadi santri. (Kunwa)

Thursday, February 28, 2019

Penghujung Periode

Hari ini
Warna ber-ikatanku semakin beragam
Kalian goreskan dengan penuh semangat
Semangat bergentar
Semangat beramal
Semangat berjalan
Semangat bermarah
Semangat beremosi
Semangat berbahagia
Semangat bermalas
hingga semangat tak berbalas

Terima kasih
Mataku menjadi bersih
Tak jarang dia mengalir
Hati perih
pikiran pening
kepala pusing
handphone tak berdering

Sendiri
Saat itu yang kurasakan
Ingin menyerah
karena tak tau arah

Ternyata tidak!
Lagi-lagi ku tak suka menyerah
Ku memilih berpindah

Kejutan bagiku
Kalian yang hadir untukku
Aku lesu
karena tak bernafsu
ku nafsu
tetapi ku tersipu

Mungkin inilah jalanku
Bismillah

Aku menikmati
hingga lupa diri
Ada rumah yang harus ku hidupi

Maafkan aku yang jauh dari sempurna
Aku bukan alat pemuas
Apalagi alat pengabul
Aku hanya manusia sederhana yang suka berkelana

Maafkan aku
Sebatas itu yang ku mampu
Inilah aku dengan segala kekuranganku
Semoga Allah memberkati aku, kamu, dia, mereka, dan kalian