Wednesday, June 6, 2018

Problematika, Dilematika Ujian: Bagaimana, Pilih yang Mana


                Hari ini saya kembali dikecewakan oleh diri sendiri. Akibat kenangan beberapa tahun lalu yang terukir bersama di masa putih abu-abu. Ini bukan kenangan biasa. Kita menjalani hampir 3 tahun. Dan semua kenagan itu hancur di akhir tahun ke 3. Sedikit mengecewakan, tetapi memang kehancuran itu sudah sesuai prosedur, sesuai perjanjian tak tertulis kita. Dan hari ini saya dibuat untuk teringat masa-masa itu. MALU…. Saya MALU dibuatnya….


Sebenarnya ini adalah hal yang lumayan sensitive, bagaimana tidak, ini menyangkut HAM (Hak Asasi Manusia). Tetapi perlu diingat saya juga manusia yang mempunyai hak.

Sudah beberapa hari ini instansi saya mengadakan ujian akhir semester, rutinitas setiap akhir semester. Namun tentu ujian di perkuliahan berbeda dengan di sekolah. Ujian itu bisa berua soal yang dikerjakan di rumah, di kelas, open book, open phone dan sebagainya. Hanya ada satu hal yang tetap sama di berbagai ujian baik diberbagai tingkatan. HONESTY

Saya berbicara tentang kejujuran bukan berarti saya seorang yang jujur di setiap ujian kapanpun dimanapun. Saya juga manusia biasa yang bisa digoda setan, walaupun sudah berusaha keras untuk memegang prinsip itu, Astaghfirullah

Tetapi yang sangat membuat saya malu, semakin tinggi tingkat pendidikan sesorang justru malah semakin tinggi juga tingkat ketidak jujuran. (ini hanya perbandingan sepihak dari saya pribadi berdasarkan perjalanan pendidikan dari SD hingga Kuliah).

Bercerita sedikit mengenai ujian/ ulangan di riwayat pendidikan saya yaitu di Madrasah Aliyah/SMA agar tidak terlalu jauh dengan jenjang yang sedang saya alami. Apapun jenis sekolahnya baik dengan latar belakang agamis atau umum yang namanya ulangan harus jujur tidak boleh curang.

Dari kelas sepuluh sampai dua belas Alhamdulillah Allah selalu memberi kami rasa malu dan bersalah ketika curang. (bersyukurlah jika kalian merasakan, tandanya Allah masih peduli dengan memberi rasa itu). Yang lebih bersyukurnya saya dianugrahi teman yang anti curang, dan Allah mengizinkan saya untuk terpengaruh tidak curang. BERAT, karena di sekolah kita masih bersaing rangking. Tetapi tentu ada jalan untuk tetap bisa bersaing di rangking. Di sini saya di paksa untuk belajar sungguh-sungguh, apalagi saya mempunyai kakak yang terbilang berprestasi sehingga sebuah kemaluan jika saya tidak bisa berprestasi. Jujur saja.

Ada hal unik semasa Madrasah Aliyah saya dulu, sepengamatan saya satu kelas saya dulu ( XI, XII IPA) tidak bakal curang jika semua warga kelas tidak curang (membuka buku) . Sekalipun ada yang curang, selepas ulangan seperti mempunyai kesalahan besar dan kemudian seperti tidak tenang. Namun, ketika kami berada di titik puncak kebingungan barulah kami bersepakat untuk membuka buku. Dan harus dibagi satu kelas. Berarti tetap saja kita tidak jujur, tetapi setidaknya tingkat ketidak jujuran kami rendah. hehe

Karena perjanjian tidak resmi itu, kami harus lebih giat belajar agar bisa menjawab soal ulangan. Belajar hingga larut malam, pantang tidur sebelum hafal dan paham. Yang sangat disayangkan kami kalah melawan hawa nafsu diri sendiri ketika Ujian Nasional.

Curang tentu sangat popular di kalangan pelajar ketika ulangan. Semua tergantung pada kita dan kembali pada kita yang memilih dan menentukan. Ingin bersenanga senang dahulu, bersakit-sakit kemudian atau sebaliknya.

Memang benar jika dikatakan prilaku seseorang itu akan mirip prilaku sahabat/ teman/ dengan siapa bergaul. Dengan siapa dia berteman akan seperti itu juga dia.

Bukan berarti juga saya tidak ingin berteman dengan siapapun yang curang karena kalau kita selalu berteman dengan orang baik, kita tidak akan pernah tau bagaimana bentuk suatu kecurangan. hehe

Manfaat dari curang adalah mendapat nilai yang bagus. Namun apalah arti sebuah nilai jika di dapat dari hal yang haram.

Kemudian fenomena yang terjadi sekarang ini jika masih ada siswa atau mahasiswa yang berbuat curang siapa yang harus membantu menyelesaikan???.

Wal akhir, sebenarnya saya hanya mempermalukan diri saya yang belum bisa berbuat maksimal dan  memberi pengaruh agar membudayakan ujian jujur dan pentingnya belajar sungguh-sungguh. Jangankan ingin membawa pengaruh, kualitas belajar sayapun sangat turun, bereda semasa di sekolah. (nampaknya saya terlalu larut kedalam dunia anak sosial yang katanya santai, padahal salah penafsiran ini :D)

Saya ingin teman yang mau mengingatkan akan akhirat dan mampu saling menguatkan…..

bersambung.... in the next page in syaa Allah

0 comments: